Rabu, 27 Oktober 2010

Tidak Ada Keadilan

 Di Paksa Mengaku

TANGERANG - Nenek Rasminah, pembantu rumah tangga yang disangka mencuri piring majikannya, Aisyah itu bersaksi bahwa dirinya dipaksa mengaku oleh penyidik, sehingga kasusnya dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan.

Hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Rabu (27/10/2010). Suasana haru menyelimuti persidangan Rasminah yang dicecar sejumlah pertanyaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan majelis hakim.

"Saya tidak mencuri Bapak. Itu semua bohong, fitnah. Itu tidak benar, tidak ada emas dan uang USD 20. Semua barang-barang itu saya dapatkan dari mantan suami Aisyah. Piring itu boleh dikasih. Buntut sapinya juga boleh dikasih," ungkap Rasminah sambil menangis disaksikan Astuti, puterinya.

Nenek 60 tahun itu juga menjelaskan, saat diperiksa di Polsek Metro Ciputat, dirinya dipaksa mengaku mencuri oleh penyidik. "Udah kamu mengaku saja dari pada nanti susah," ucap Rasminah menirukan ucapan petugas.

Setelah dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Rasminah mengaku, berkas tersebut tidak boleh dia baca kembali namun langsung disuruh petugas membubuhkan cap jempol pada BAP yang telah dibuat.

"Saya tidak ngerti BAP. Saya tidak tahu isi BAP itu apa. Maaf majelis hakim, saya tidak bisa membaca dan menulis. Saya tidak pernah sekolah. Saya hanya disuruh memberikan cap jempol. Saya di BAP, tidak ditemani anak saya," jelas Rasminah sambil terus menangis.
http://news.okezone.com

Melihat kejadian ini. Terbukti hukum di Indoneisa tidak bernilai sama sekali. Hanya dengan sebuah pengakuan dan itu juga dipaksa. Seseorang lalu divonis bersalah. Tidak dicari lebih dalam lagi, seperti apa kejadian yang sebenarnya, apa benar dia melakukan, dan lain sebagainya. Saya pikir, seseorang bisa divonis bersalah setelah semua bukti terkumpul dan ada saksi yang menyatakan dia bersalah, dan kesaksiannya kuat. Kenapa diberita diatas, tidak seperti yang saya pikirkan. Entah akan jadi apa bangsa ini kelak jika terus begini. Berpikirlah kedosa orang-orang atas. Jangan hanya menjadikan orang-orang kalangan bawah sebagai kambing hitam. Saya pernah melihat di TV, saya lupa di stasiun mana, dan ini lebih parah lagi. Jadi, ada tukang bakso sedang berjualan. Tiba-tiba ada seseorang menghampiri tukang bakso itu dan langsung memasukan sebuah kantong  plastik hitam kedalam tong baksonya. Dan ternyata isi plastik itu adalah ganja, di tahanlah tukang bakso malang itu. Setelah dicari tahu, ternyata seseorang yang menaruh kantong plastik kedalam tong bakso adalah seorang polisi dan tukang bakso itu tetap divonis bersalah telah membawa ganja. Biarpun si tukang bakso sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya, dan sudah menjelaskan seperti apa yang ia lihat saat itu. Ironis memang. Jujur, saat melihat berita itu saya sedih, sempat ingin mengeluarkan air mata. Karena saat saya melihat tampang tukang bakso itu, tampangnya lugu, dari cara dia berbicara dia orang yang polos dan baik. Yang membuat saya ingin menangis adalah, dia hanya seorang tukang bakso yang penghasilannya tidak tetap dan itu juga kecil. Kenapa hal macam itu bisa menimpa dirinya, dan jahat sekali orang yang melakukannya. Semoga para penurus bangsa ini termasuk saya, bisa memperbaiki kinerja untuk membenah bangsa ini, menjadi bangsa yang baik. Apa mungkin orang-orang yang bekerja dipengadilan atau hukum, kurang akan pendidikan atau pengetahuan yang bersangkutan akan pekerjaanya. Hingga hukum berjalan tidak seperti keadilan. Dimana kejujuran bisa dibeli, hanya dengan menyodorkan dana besar, orang yang bersalah bisa menjadi tidak bersalah.

0 komentar:

Posting Komentar

(Hak Cipta)Yulianto_Taufiq. Diberdayakan oleh Blogger.


 

© Copyright by yulianto_taufiq | Template by BloggerTemplates | Blog Templates at Fifa World